Selasa, 05 Februari 2013

Nonton Valley of the Wolves Palestine

Pelajaran SBYK hari ini agendanya nonton film. Dan ternyata, filmnya keereennnn banget ;D(olahraga jantung. hahah)  pemainnyaa apalaaggii kecee banget! Wkwkw nge-fans sama Polat Alemdar , disitu jago banget. Sekelas nonton film "Valley of the Wolves Palestine" pada rame'' banget, pada teriak'an. Terutama temen yang  kagetan, yang latah, yang berisik deh pokoknya ;D Awal nonton ini bahkan ada yang sampe nangis, nangis terharu plus kesel katanya. karena kan ini film action, jadi banyak adegan sadisnya. Ya walaupun mungkin para pecinta filma action gak sadis banget. TAPI TETEP AJA SADIS! I HATE ISRAEL. israel laknatullah! hem, oke oke keep calm :D Ngeliat seluuruh adegannya itu ngerasa benget. nyentuh! jadi wajib nonton! Asli seru. Film ini menyadarkan bahwa ujian'' cobaan'' kita selama ini belum seberapa. Apalagi dibandingkan mereka yang disana. Yang setiap detik taruhannya nyawa. Antara Hidup dan Mati. Berarti iman kita juga tak setinggi mereka, jadi kita harus meningkatkan rasa cinta kita kepada Allah, kepada islam. Sehingga meningkatkan juga ibadah'' kita selama ini. jadi punya semangat buat berjuang dijalan Allah. Biar bisa mendapatkan Syahid (Aamiin) tak hanya dengan pistol, tapi bisa dengan menuntut ilmu, dan sebagainya ;)  ALLAHU AKBAR!! We Will nit go down in the night, without the fight! I Believe, Palestine Will Be Free!! Insya Allah!


> Sutradara: Zübeyr Sasmas
> Naskah: Cüneyt Aysan, Bahadir Özdener, Raci Sasmas
> Sinematografi: Selahettin Sancakli Pemain:
Neceti Sasmas (Polat Alemdar),
Erdal Besikçioglu (Moshe Ben Eliezer),
Nur Aysan (Simone Levy),
Gürkhan Uygun (Mamati Bas),
Abdülhey Çoban (Kenan Çoban)
> Durasi: 122 menit
> Genre: Aksi (Action)

Sinopsis singkat:
Kisah diawali gambar penyerbuan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel. Tragedi yang menewaskan 8 warga Turki dan 1 Amerika. Untuk balas dendam Turki mengirim tim khusus terdiri dari 3 orang penembak jitu terlatih Polat, Abdülhey dan Mamati. Mereka bertugas membunuh otak serangan Mavi Marmara yaitu Tentara Israel Moshe ben Eliezer. Misi ini 3 orang tersebut bekerjasama dengan Abdullah seorang warga teritori Palestina. Akan tetapi dalam misi ini mereka terpaksa melibatkan seorang pemandu wisata Amerika keturunan Yahudi Simone yang akhirnya juga menjadi buron tentara Israel setelah insiden tembak menembak di pos pemeriksaan Israel. Betul film ini adalah rekaan pengembangan kisah tragedi kapal Mavi Marmara.

Sejak awal kita sudah disajikan dialog frontal yang berlebihan ketika Polat bernegosiasi dengan tentara Israel bahwa mereka tidak mau masuk ke Israel tapi ke Palestina, juga dia terang-terangan ia datang untuk membunuh Moshe. Apa ada tim khusus berbicara sembarangan tanpa tedeng aling-aling seperti ini. Dari sini sudah bisa diperkirakan alur operasi ini akan berjalan lancar jaya. Meski demikian namun banyak hal yang dikorbankan dalam operasi ini. Penggambaran Moshe dan pasukannya yang sangat kejam bahkan tanpa ampun membunuh warga sipil termasuk anak,orang cacat dan manula serta wanita. Moshe juga ditampilkan sebagai tentara terlatih yang tidak mudah dibunuh, ia sempat lolos meski kehilangan organ indranya.

Warga Palestina dalam film ini digambarkan bagai hidup dalam penjara terbuka dikungkung oleh tentara Israel. Batas suka,duka,hidup dan mati digambarkan saat Simone yang mulai akrab saat tinggal dengan keluarga Abdullah sesaat kemudian tentara Israel datang dan mengubah canda menjadi nestapa. Polisi penjaga otorita Palestina pun seakan tak berdaya saat Tentara Israel ingin menggeledah pemukiman warga.

Walau beberapa media barat menganggap film ini antisemit namun terselip dalam dialog ibu Abdullah yang mengatakan kepada Simone bahwa yang mereka musuhi bukan Yahudi namun penindasan mereka. Maka kesan antisemit sudah gugur dalam film ini. Tokoh Simone yang yahudi juga mengatakan tidak logis kalau pembantaian yahudi di Eropa dikaitkan dengan penindasan bangsa Palestina karena mereka tidak bertanggung jawab atas holocaust. Ketika dikesankan film ini mengambil keuntungan dengan mengeksploitasi agama dan warga Palestina Penulis naskah Bahadir Özdener menyatakan film ini hanya ingin menampilkan keadaan warga palestina, penderitaan, penindasan serta mengajak memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Film yang merupakan franchise yang sukses di Turki ini di awali dari serial tv yang kemudian diangkat ke layar lebar. Diawali seting di Irak pada tahun 2006 dan film kedua di tahun 2008 di Gladio. Setelah sempat ditunda karena premier film ini bertepatan dengan peringatan holocaust saat diputar di Jerman namun kesuksesan film ini di Turki membuat dibuat versi sulihsuara bahasa arab untuk pasar Negara-negara Arab.

Meski terkesan bergaya Rambo, James Bond bahkan Chuck Noriss yang digdaya dan tak ada hal-hal yang mengejutkan serta sangat superheronya Polat, namun di akhir Ramadhan dimana ada hari Yerussalem atau Yaum Al Quds yang dicetuskan Ayatollah Khomeini tiap jumat terakhir Ramadhan untuk mengingat dan menggelorakan semangat mendukung kemerdekaan Palestina lewat aksi jalanan. Film ini sebagai pembanding dimana terlalu banyak film barat mengidentikkan Islam, Arab dan Terorisme serta kekerasan maka film ini adalah obat.




0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template