Kamis, 01 November 2012

Akhirnyaa, cerpen ini jadi juga :)

 Cerpenku ini sangking buru-brunya, blum ku kasih judul. ^^ tugas b.indo.Selamat membaca :)


Pluto. 'Planet' yang mengubah jumlah planet yang tadinya 9 jadi 8. Planet terkecil, terdingin, dan jauh dari bumi.

 Suatu hari, sekelompok astronom memutuskan bahwa pluto itu tidak memenuhi kriteria sebagai planet. Sehingga pluto diturunkan statusnya menjadi planet kerdil. Semua dikarenakan pluto aneh, berbeda, dan dianggap tidak normal dibandingkan planet-planet saudaranya di tata surya.

Dan ternyata, tak hanya pluto.
Begitu juga dengan anak laki-laki berumur  7 tahun. Sebut saja Ihsan.

Karena kekurangannya dibandingkan teman sebaya dan kakaknya. Ia di-pluto-kan oleh keluarganya sendiri dan guru-gurunya. Ia dianggap bodoh, bahkan sangat bodoh! bayangkan, ketika ujian matematika. 3 dikali 9 ia jawab 3. Dan yang lebih parah, ketika waktu ujian selesai. Ternyata ia baru menjawab 1 soal, itu pun salah.

Ketika semua murid sibuk memperhatikan guru menerangkan, rajin belajar, dan unggul dalam nilai pelajaran.
Ihsan tenggelam dalam lamunannya. asyik terbang dengan imajinasinya, mungkin itu lebih tepat.

" Ibu, kami tidak bisa membantu anak ibu lagi. ini tahun yang ketiga ia di kelas 3. Mungkin, lebih baik ibu pindahkan Ihsan ke sekolah yang mampu mengajarinya lagi. Lihat saja nilai-nilainya. Tulisan-tulisannya. Maaf, Kali ini kami benar -benar tidak bisa membantu." Ucap wali kelasnya dengan cemas sekaligus prihatin.

Orang tua Ihsan hanya bisa diam seribu bahasa. Rasa kesal dan sedih menjadi satu hingga akhirnya menjadi amarah. Tak ada jalan lain.

" Ihsan memang keterlaluan!! dia sangat memalukan! mengapa ia tidak bisa mengerti. mengapa ia tak pernah menjadi kakaknya yang selalu unggul di semua pelajaran!" Ayah Ihsan begitu marah. Tak terima dengan kenyataan ini.

Ihsan yang ceria dengan khas gigi kelincinya. Ihsan yang suka bermain. Ihsan yang suka tertawa, bercanda. Ihsan yang tak peduli dengan cemohan ayahnya. Ihsan yang ceria dan bahagia. Tapi tidak sekarang. Sekejap berubah. Semenjak keluarganya memindahkan Ihsan ke sekolah asrama.

Bukannya lebih baik, malah lebih buruk.
Ihsan yang tadinya ceria layaknya anak-anak. Jadi pemurung, penyendiri, dan semakin tenggelam dengan dunianya sendiri.
Setiap hari ia merenungi nasibnya. Begitu tertekan, tak ada seorangpun yang mengerti perasaanya. Ia menuangkan perasaannya dalam gambar.

Hari-harinya begitu suram persis seperti langit yang mendung. Terkadang hujan, begitu derasnya. Atau tetap mendung dengan udara yang sejuk tapi bimbang.

Tapi, seolah-olah kehidupannya berubah. Semenjak Ihsan ditakdirkan bertemu dengan seorang malaikat. Ya, malaikat bagi Ihsan. Nikumbh, seorang guru seni yang memiliki kepribadian luar biasa. Sangat mencintai anak-anak. Baginya, setiap anak adalah bintang.

Nikumbh yang semakin penasaran dengan sikap Ihsan benar-benar telah membantu merubah kehidupan Ihsan  tak cepat memang. Tapi pasti.

Nikumbh juga telah berhasil mengetahui bahwa Ihsan menderita penyakit dyslexia. Yaitu penyakit dengan tanda tidak lancar membaca, menulis, dan menghitung. Dan uniknya, ternyata Nikumbh sendiri kecilnya juga mengalami dyslexia. Nikumbh mengilustrasikan beberapa orang besar seperti Agatha Christie, Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Leonardo Da Vinci, Thomas Edison, Tom Cruise, Walt Disney, dan dirinya sendiri, yang mengalami masalah yang serupa tetapi mampu ber prestasi dan mengubah dunia.

Itu yang membuat Nikumbh yakin bahwa Ihsan memiliki potensi yang luar biasa!
Dengan sabar Nikumbh mengajari Ihsaan mengenal huruf dan angka dengan metode yang berbeda.

Nikumbh menggoreskan jarinya ke pasir. " Ini 'A', ini 'B', ini 'C'.... " Dengan reflek Ihsan langsung mengikutinya dengan begitu antusias.

Dan terbukti, Ihsan berhasil menghasilkan karya-karya yang mengagumka!. Sungguh, unik.
Ihsan menjuarai lomba melukis di sekolahnya. Mengalahkan, guru, orang tua, dan teman sebayanya sendiri.
Perlahan, kepercayaan dirinya kembali.

Betapa terharunya orang tua Ihsan melihat semua ini. Ihsan lulus!

" Terimakasih..Terimakasih.. kami tak tahu harus membalas dengan apa." dengan suara terisak. Menyesal, gembira, terharu menjadi satu."

0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template