Rabu, 11 April 2012

Type manusia dihadapan Al-Qur'an


Manusia itu bermacam-macam type dan pembawaannya. Khususnya ketika ia berhadapan dengan al-Qur'an. Sebagai seorang muslim kita harus mengetahui type apa saja yang disebutkan di atas sehingga kita mengenal di mana posisi kita itu, sehingga kita bisa menilai di mana peran kita dan agar kita dapat berbuat sesuai kehendak al-Qur'an dan tidak menyimpang darinya.
Setidak ada 3 type keadaan umat di hadapan al-Qur'an, yaitu:
1. Kelompok yang berpaling dari Kitabullah. Kitabullah adalah Kitab Suci kita dan pedoman hidup manusia dalam kehidupan ini. Bukan kitab-kitab lainnya yang tidak jelas arahan dan petunjuknya. Nah, mereka yang berpaling dari al-Qur'an ini adalah mereka yang kelak akan menjadi musuh Rasulullah Saw di hari kiamat nanti. 


Allah berfirman: 
Artinya: "Dan Rasul berkata: "Wahai Tuhanmu sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang diacuhkan.' (Qs al-Furqon: 30)

2. Kelompok yang rajin membaca al-Qur'an dan merutinkannya, akan tetapi ia belum merasakan keagungannya, belum sampai kepada makna yang terdalam darinya, belum menghayati segala aturannya dan belum mengetahui mukjizat-mukjizat yang terkandung di dalamnya.
Type kedua nampaknya banyak sekali yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Seringkali umat menyadari bahwa Kitab sucinya ini, yakni al-Qur'an, harus didekati, dibuka, dibaca, dipelajari, dan dipahami untuk kemudian diamalkan. Namun sayangnya, karena keinginan mereka hanya sampai pada batas itu, mereka pun hanya puas sampai pada tilawah saja. Tidak banyak yang melanjutkannya pada mempelajari lebih dalam, apatah lagi menjadikannya sebagai wirid dan mengamalkannya yang merupakan inti dari ajaran Islam ini.
Untuk mereka ini, maka adanya suatu wadah dan komunitas belajar al-Qur'an sangat pantas untuk ikuti guna memperdalam pemahaman mereka tentang al-Qur'an dan agar hamasah (semangat) mereka terus meningkat dan terasa.


3. Kelompok yang di atasnya, yakni kelompok yang selalu berujuk kepada kitab-kitab tafsir
Mereka ini sangat menyadari bahwa isi al-Qur'an ini memang harus dieksplorasi. Dan itu tidak bisa dilakukan secara otodidak, tapi harus dilakukan dengan membaca kitab-kitab referensi dari ulama terdahulu yang memang memiliki pemahaman yang benar dan konprehensif terhadap al-Qur'an ini. Semisal, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Imam Qurthubi, Tafsir at-Thabari, Tafsir Alusi dan lain sebagainya.
Untuk type ketiga ini pembahasan tentu mendalam. Karena dari mereka ini, cahaya Islam lewat al-Qur'an akan terpancar. Dan tentu mereka ini akan memperoleh gudang emas ilmu dan hikmah dari usahanya mempelajari al-Qur'an.
Oleh sebab itu...Wahai saudaraku. 
Mari kita perhatikan, pada posisi manakah diri dalam berinteraksi dengan al-Qur'an ini. Pertama, kedua ataukah ketiga?!
Yang jelas apabila kita ingin menjadi golongan yang dekat dengan Allah, mendapatkan hikmah-Nya, sukses dalam kehidupan, bahagia bersama orang-orang di sekitar kita dan dapat mengatasi pelbagai problematikan dan urusan hidup ini, maka type kedua dan selanjutnya type ketiga adalah sebuah langkah awal. Dan itu semua kembali diri kita masing-masing.
Semoga kita tetap bisa selalu mengerti posisi al-Qur'an di dalam dada kita, sehingga selamanya kita bisa mengukur segala sesuatu menurut hasil pemahaman kita terhadap al-Qur'an ini. Insya Allah..Mudah-mudahan bermanfaat.
Wallahu A'lam Bish-Showab.
sumber : Sohibul Qur'an

0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template