Sabtu, 03 Maret 2012

Percayalah, ujian Allah sesuai kadar iman manusia dan zamannya

Hidup ini adalah anugerah, nikmat sekaligus cobaan. Ketiganya berhimpun menjadi satu pada sifat hakikat hidup di dunia ini. Siapapun manusia dan kapanpun ia pasti akan menjumpai berbagai cobaan yang dialami di dunia. Dalam bentuk dan kadarnya yang berbeda-beda pula. Kata Allah swt bahwa Dia tidak membebani suatu diri melainkan menurut kesanggupannya.

Sebagaimana ujian dan nikmat berbeda-beda, maka kadarnya juga demikian. Dan Allah menguji kita sesuai kadar kekuatan iman kita kepada-Nya. Ini khusus manusia yang beriman. Tujuannya untuk membuktikan kebenaran keyakinan keimanan yang selama ini dianut dan dihafal secara teoritis. Begitu pula cobaan juga bertujuan untuk menyeleksi apakah ia layak disebut orang beriman ataukan orang munafik yang hanya menampakkan zahirnya dan menyembunyikan batinnya. 

Lebih luas lagi cakupannya, hidup ini juga sebagai roda cobaan bagi manusia dalam kelompok yang besar. Karena dunia ini luas dan ditinggali oleh milyaran manusia hingga saat ini, maka masing-masing memiliki karakter cobaannya dari Allah swt.

Kalau di atas khusus orang beriman sebagai bentuk pembuktian dan penyeleksian keimanannya,  maka untuk kaum kafir, ujian itu bertujuan untuk menyadarkan dari bentuk rasa kekafirannya selama ini. Lalu menunjukinya kepada kekuasan-Nya dan kebenaran Islam. Di sisi lain bencana juga bertujuan untuk menyiksa, mengazab dan membinasakan mereka. Dalam hal ini orang-orang kafir yang berstatus musuh-musuh Allah dan Islam mendapatkan bentuk siksaan dalam bentuk bencana besar. Agar mereka sadar.

Bisa jadi di antara mereka yang pernah mengenal Islam, tapi tidak memperdulikannya. Ada yang pernah diperingatkan ke jalan Allah namun ia menolak, menentang dan justru menyakiti orang-orang yang menyerunya. Maka bentuk bencana yang Allah turunkan merupakan bentuk azab dan siksa dari Allah swt.

Saat ini, dunia tengah di hadapkan dengan berbagai bencana dan ujian. Tujuannya agar mereka sadar dan kembali kepada Allah. Bukan kembali kepada keyakinan-keyakinan lainnya. Bagi mereka yang beragama non Islam maka ia akan menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan mereka yang bukan Allah swt. Dan Allah Maha Tahu ke arah mana Dia akan memberikan jalan terbaik.

Allah Maha Adil. Ketika ia menurunkan cobaan, maka cobaan itu bersifat alami (general) agar bisa diambil pelajaran bagi kaum menyaksikan. Orang yang beriman pasti mengambil ibroh atau pelajaran darinya, dan tentu saja bencana besar itu akan menggugah keimanan dan meningkatkannya agar lebih kuat dan kokoh.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan malah beriman kepada selain Allah apapun bentuknya, maka keyakinannya akan labil. Dan justru akan menimbulkan datangnya bencana lain silih berganti disebabkan pengingkaran mereka kepada Pemberi bencana Allah swt, Tuhan yang hakiki.

Belakangan ini, mungkin Bencana Besar yang menimpa Jepang merupakan bencana yang menjadi buah bibir dunia. Ya, Allah telah memberikan sinyal kekuasaan-Nya dengan lebih hebat kepada negara maju itu. Bentuk bencana itu Allah turunkan secara besar dan alami agar semua mata yang tertuju ke sana segera sadar dan insyaf serta kembali kepada-Nya. Tidak malah mengagungkan tuhan-tuhan lain yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Baik sekali apa yang diserukan Kaisar Jepang, Akihito kepada warga Jepang untuk tidak menyerah menghadapi bencana yang ke sekian lainnya dalam sejarah Jepang dalam skala yang besar dan mengglobal dampaknya. 'Tidak menyerah' dalam ungkapan si Kaisar itu bisa jadi memiliki makna lain bagi kepercayaan Jepang. Ini sesuai dengan keyakinan mereka yang banyak bersandar kepada non-Tauhidullah alias syirik.

Boleh jadi seruan untuk bangkit ini dalam rangka mengingatkan bahwa mereka itu secara tehnologi adalah bangsa besar yang tidak mudah menyerah ketika ditimpa bencana besar apapun itu. Meski dalam bentuk gempa, tsunami dan terakhir ancama radiasi reaktor nuklir yang amat mengerikan. Mereka sudah susah payah menbangunnya untuk keberlangsungan bangsa Jepang di hadapan bangsa dunia.

Bagi Allah untuk menghancurkan apapun di atas dunia ini adalah hal yang kecil dan tidak ada apa-apanya. Dan bagi mereka bencana itu dianggap sebagai bagian dari penghambat kemajuan negeri Sakura itu. Makanya Kaisar menyerukan rakyat Jepang untuk bahu-membahu membantu mereka yang terkena langsung bencana besar itu.

Ya, begitulah kekuasaan Allah di era modern ini. Bagi-Nya apapun dapat dengan mudah dilakukan untuk menyeleksi mana di antara umat ini yang pantas diberikan bencana dan cobaan agar mereka sadar dan menjadi contoh hikmah bagi manusia lainnya.

Wallahu a'lam bish-showab.
sumber ( hidayatullah )  


Bersabarlah..

0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template