Jumat, 25 November 2011

Allah belum memberiku hidayah..


        





             Para akhwat ( wanita ) yang tidak berjilbab ( berhijab ) banyak yang berdalih, “ Allah belum memberiku hidayah. Sebenamya aku juga ingin menutup aurat, tetapi mau bagaimana lagi jika hingga saat ini Allah belum memberiku hidayah?, do’akanlah aku agar segera mendapat hidayah ! ”.
Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami ingin bertanya, “ bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah? “. Jika jawabannya, “Aku tahu”, maka ada satu dari dua kemungkinan : Pertama, dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi ( Lauhul Mahfuzh ).
Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang yang celaka dan bakal masuk Neraka. Kedua, ada makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa jadi yang memberitahu itu malaikat, manusia atau jangan-jangan malah setan laknatullah yang memang sengaja memalingkannya dari kebenaran.
Jika kedua jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana mungkin engkau mengetahui Allah belum memberimu hidayah? Ini salah satu masalah. Masalah lain adalah, Allah telah menerangkan dalam kitabNya, bahwa hidayah itu ada dua macam, yaitu :
1. Hidayah Dhalalah
Ini adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam hidayah ini, terdapat campur tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan RasulNya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran pada manusia yang mukallaf ( telah balig dan terbebani hukum Islam ), Dia juga telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para Rasul dan KitabNya.
Para Rosul pun telah menerangkan jalan ini kepada kaumnya. Begitu pula para da’i. Mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini. Termasuk didalamnya adalah usaha kita sendiri dalam mempelajari dien dan buku-buku Islam.
2. Hidayah Taufiq
Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari penyimpangan, pertolongan agar tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran, pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
Hidayah taufiq diberikan kepada orang yang memenuhi panggilan Allah dan mengikuti petunjuk-Nya. Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dhalalah. Sejak awal, dengan tidak pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah berfirman dalam QS. Fushilat ( 41 ) : 17 yang artinya, ” Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta ( kesesatan ) daripada petunjuk itu …. “.
Oleh karena itu pada dasarnya, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap mukallaf untuk memilih antara jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang kepadanya. Allah berfirman dalam QS. Muhammad ( 47 ) : 17 yang artinya, ” Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah ( akan ) menambah petunjuk pada mereka dan memberikan kepada mereka ( balasan ) ketakwaannya “.
Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan menambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq. Allah berfirman dalam QS. Maryam ( 19 ) : 75 yang artinya, ” Katakanlah : ‘ Barangsiapa yang berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya …. “. Dan firman-Nya dalam QS. Ash-Shaff ( 61 ) : 5 yang artinya, “ … Maka tatkala mereka berpaling ( dari kebenaran ), Allah memalingkan hati mereka “.
PERUMPAMAAN HIDAYAH TAUFIQ
Syaikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena tentang hidayah taufiq ini, dan itu merupakan sunnatullah. Beliau mengumpamakan dengan seseorang yang menanyakan suatu alamat. Orang itu pergi ke polisi lalu lintas untuk menanyakan alamat tersebut. Lalu polisi menyarankan, ” anda bisa bejalan lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan anda belok ke kanan, selanjutnya ada gang, anda belok ke kiri, di situ anda mendapatkan jalan raya, di seberang jalan raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamplet besar, itulah alamat yang anda cari “.
Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi atau mendustakannya. Jika percaya kepada polisi, ia akan segera beranjak mengikuti petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk polisi, ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan. Jika ia tidak mempercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai pendusta, sehingga ia bejalan menuju arah yang berlawanan, rnaka semakin jauh dia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan kesesatan.
Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah ini. Siapa yang memilih kebenaran, Allah akan menolong dan meneguhkan hatinya. Dan siapa yang memilih kebatilan, maka Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya bersama setan yang menyertainya.
CARILAH SEBAB-SEBAB HIDAYAH, NISCAYA KAU AKAN MENDAPATKANNYA
Itulah sunnatullah yang berlaku pada semua makhluknya. Allah berfirman dalam QS. Fathir ( 35 ) : 43 yang artinya, “ … Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kaIi tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu “.
Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ( 13 ) : 11 yang artinya, ” Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “.
Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo’akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya mendapat hidayah tersebut. Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam. Suatu hari, dia amat membutuhkan makanan, Padahal ketika itu, ia dalam kondisi sangat lemah,
Seperti yang biasa tejadi pada wanita yang hendak melahirkan. Lalu Allah memerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekalipun tidak akan mampu melakukannya. Maryam diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma, meskipun pangkal pohon kurma itu sangat kokoh dan sulit digoyang-goyangkan. Allah berfirman dalam QS. Maryam ( 19 ) : 25 yang artinya, ” Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu …. “. Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon kurma, sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara meletakkan tangannya di pohon kurma. Dengan demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan sunnatullah dalam hal perubahan.
Maka hasilnya adalah sebagaimana firman Allah dalam QS. Maryam ( 19 ) : 25 yang artinya, ” Pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu “. Inilah sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang mukmin terus-menerus berada di masjid, bahkan meskipun di Masjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah kepada Allah, Seraya mengharap rizki dari Allah. Tentu Allah tidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari sebab-sebab rizki tersebut. Langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan perak.
Karena itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu ialah berdo’a agar mendapat hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis-majelis dzikir dan ceramah agama, mendengarkan kaset pengajian agama, membaca buku-buku tentang keimanan dan sebagainya.
Tetapi, sebelum melakukan semua itu hendaknya engkau terlebih dahulu meninggallkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan tayangan-tayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian tanpa disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda ( pacaran ), dan hal-hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.
TIPS PENTING
1. Ubahlah perilaku dan caramu berfikir, maka dengan sendirinya kebiasaanmu akan berubah.
2. Bergaulah dengan orang – orang alim, tak perlu kita hiraukan apakah lebih muda atau lebih tua, selama mampu memberi manfaat maka bergabunglah dengan mereka.
3. Cari, datangi dan ikutilah kajian – kajian yang membahas tentang ilmu agama ( dien ) serta datangilah secara istiqomah, pokoknya paksakan diri mesti sedang malas atau ada kegiatan apapun atau dengan kata lain luangkan waktu khusus untuk menghadiri kajian.
4. Carilah dan baca buku – buku yang berkaitan dengan ilmu agama.
5. Berusahalah mengamalkan ilmu apa yang telah kamu dapat semampunya, semua butuh proses dan bertahab.
6. Bersabarlah, karena berjuang dijalan Allah akan banyak rintangan, maka siapkan dirimu dan luruskan niatmu, hanya kepadaNyalah kita memohon pertolongan dan mengharap ridhoNya.
Allah telah memberikan pilihan ada ditangamu wahai saudaraku….! Dan pilihan itu akan dimintai pertanggungjawaban. Wallahu a’lam
Oleh : Ibnu Sahro
dari www.langitmembiru.wordpress.com

0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template