Senin, 17 Oktober 2011

Miss Marsha - Akhwat itu Emang harus Lembut yach?

 _copas dari catatan temen fb.. semoga bermanfaat kelihatannya sangat bagus..._

Hai sobat FB'ers ... ketemu lagi nich dengan cerpen. Terinspirasi dari status seorang anak BM (SMP Islam Plus Baitul Maal) pastinya putri yg berisi "Emang akhwat harus gimana sich!" Jadi keingetan dech klo di majalah Annida pernah ada cerita yg isinya akhwat banget alias jadi akhwat itu ga' harus gimana-gimana. Yang penting mau terus memperbaiki diri. Setuju ga Sob ^^ So' kulik yuk cerpen berikut ini, tapi bersambung yach ;)

Miss Marsha 

Mayoritas dosen bertampang kecut,serius, dan ’berpaham’. Benarkah demikian?
Pintu ruang kelas terbuka tiba-tiba . “Assalamu’alaikum, Good morning everybody ,senang bisa bertemu kalian semua.” Zuit, zuit, tret, tret, hup! Sebuah pistol mainan berputar-putar di udara, disambut dua buah jari, telunjuk dan jempol lalu memutar-mutar pistol itu sejenak kemudian melempar kembali ke udara.

            Tap. Pistol ditangkap oleh tangan lalu brak! Diletakkan di atas meja  dengan suara keras. “Masya Allah,” Yani mengelus dadanya . “Keluarkan sehelai kertas lalu tulis apa yang ingin anda tulis hari ini sebagai password untuk belajar dengan saya!”

            Muslimah identik dengan kelembutan , kehalusan  kata-kata  dan santun berbicara. Benarkah demikian? “Kerjakan cepat!” “Baik.”  Sret, sret , bunyi kertas dirobek , seisi kelas gaduh tiba-tiba . “Tanpa suara! lima menit dari sekarang!” Kelas mendadak tenang. Para mahasiswa mengeluarkan kertasnya dengan lebih pelan, lalu mulai asyik menulis.
“Jangan lupa mulai dengan Bismillah, sebab sebuah pekerjaan tanpa dimulai dengan menyebut nama Allah , maka Allah akan berlepas diri dengan pekerjaan itu.”  “Ya.” Lima menit berlalu ”Ayu, tolong dikumpulkan kertas saudara-saudaranya ya?” “Baik.” Ayu berdiri kemudian mengumpulkan  kertas teman-temannya.

“Oke class . Let’s begin our lesson today. Ayu, Please put it all on my desk. ” “Ya miss.” Muslimah yang dosen biasanya mengajar dengan penuh kelembutan , kasih sayang, dan kelembutan kata-kata. Benarkah  demikian?  Tok, tok, tok. “Ya?” Pintu kelas terbuka. Rika di ambang pintu “I’m sorry  I’m late, because… ” Crot! Sebuah semprotan biru memotong kata-kata Rika “I know that girl , I forgive you, now have a sit, please.”
Rika berdiri terpaku di ambang pintu, sebuah noda semprotan besar berwarna biru muncrat ke bajunya. Beberapa meter di depannya sang dosen berkacak pinggang sambil mengacukan pistol mainan ke arah Rika. Pistol itu baru saja memuntahkan pelurunya yang menjadi noda biru di baju Rika. “Saya-saya…” Rika terbata-bata ketika melihat bajunya . “Have a sit, my dear.”  “Thank you” Ujar Rika, wajahnya  kelihatan pias, lalu tanpa bisa bicara  apa-apa lagi ia masuk ke kelas dan mencari kursi kosong.

“Don’t worry ,” si pengirim noda di depan kelas tersenyum manis , “Nodanya bisa hilang dengan deterjen , Rika. Banyak sekali deterjen dan sabun krim yang di jual di pasaran, kamu bisa memilih salah satunya. Tapi ingat jangan buatan Yahudi-Amerika ya? karena kalo kamu beli maka sama artinya kamu mendukung dana mereka untuk membeli senjata buat memerangi saudara –saudara kita yang Muslim. Kalo kita gak bisa ikut berintifadha bersama mereka di Palestina sana, setidak-tidaknya kita jangan membantu kaum Yahudi untuk membeli senjata. Kalian semua tahu seekor burung kecil pada zaman nabi Ibrahim a.s? sewaktu beliau berada di kobaran api , seekor burung kecil mencoba memadamkan api dengan setetes air yang ia bawa di paruhnya , burung-burung besar tertawa mengejek si burung kecil, mereka bilang, mana bisa setetes air memadamkan api yang berkobar begitu besar, namun apa jawab si burung kecil? Katanya, Allah tidak akan bertanya padaku mengapa api itu tidak padam , Allah hanya akan bertanya ,apa usaha yang aku lakukan untuk memadamkan api itu . Nah , dari sini, mudah-mudahan kita bisa mengambil ibrah atau mata kuliah, bahwa Allah tidak menilai hasil tapi Allah lebih mementingkan niat dalam berbuat. So,tak penting kita berhasil hari ini , yang penting kita sudah memancangkan pondasi.” Pistol di letakan ke atas meja. “Oke, class let’s begin the bright sunshine day.”

***

Namanya Marsha, biasa dipanggil Miss Marsha, ada pula yang memanggilnya mbak Marsha, Teh Marsha, Kak Marsha, Uni Marsha atau Ibu Marsha. Dari semua panggilan itu, ia paling suka di panggil Miss Marsha karena kesukaannya menggunakan bahasa Inggris. Padahal Indo pun dia tidak, apalagi bule. Dia asli Indonesia, kulitnya sawo matang dan kadang-kadang ngomong minang.

Satu-satunya hal yang mendukung kemafhuman orang akan kesukaannya berbahasa Inggris raya hanyalah, ia pernah juara pidato bahasa Inggris ketika masih SMU, lain tidak. Tapi tak banyak mahasiswa yang protes akan kegemarannya  yang agak ’di luar batas kewajaran’ itu, kenapa disebut sebagai di luar batas kewajaran? Karena justeru mata  kuliah yang diajarkannya sama sekali tak ada hubungan dengan bahasa Inggris. Ia mengajar mata kuliah Kalkulus di seluruh jurusan fakultas teknik universitas Bung Hatta ini.

Ia mengajar dengan serius namun entah mengapa terasa santai. Ia juga jarang berbicara lemah lembut  penuh belas kasihan kepada mahasiswanya, bahkan pistol kesayangannya selalu menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswanya. Setiap kali ada yang lengah seperti ngobrol atau  mencontek ketika kuis, maka moncong pistol nya itu akan selalu setia memuntahan peluru berupa tinta biru. Tapi, ini yang lagi-lagi mencengangkan, tak satupun mahasiswa yang memendam kekesalan setiap kali peluru pistol itu mengenai mereka. Meskipun mereka harus mengenakan baju kotor sepanjang hari karenanya.

“Itu untuk latihan kedisiplinan,” begitu jawaban Miss Marsha selalu setiap kali ditanya, “Saya tak ingin mahasiswa saya tumbuh menjadi orang-orang yang seenaknya saja. Tak menghargai waktu, dosen dan dirinya sendiri. Mahasiswa-mahasiswa saya harus tumbuh menjadi mahasiswa yang memiliki harga diri. Hanya orang-orang yang memandang rendah dirinya saja yang selalu nyontek setiap kali ujian! ”
Akhwat Biru jago Kungfu

Walhasil divonis begitu semua mahasiswanya hanya bisa terdiam sekaligus dengan agak gengsi (terutama bagi si raja dan ratu nyontek) mengakui kebenaran perkataan wanita yang mereka juluki Margaret Theachernya IVO itu. Wanita Besi. “Saya ingin tahu lebih banyak mengenai dosen kita itu,” ujar Setya suatu waktu ketika, ia adalah salah seorang warga lokal  B jurusan IPA, “Tidaklah kalian pikir aneh bahwa ada seorang jilbaber yang demikian? Kakak saya seorang jilbaber namun karakternya bertolak belakang sekali dengan Miss Marsha, Ayu juga jilbaber, dan seperti para jilbaber umumnya, dia tidak grasa-grusu.”

Bimo mengangguk ”Seharusnya seorang jilbaber itu feminim dalam artian yang sebenarnya, bukan feminim pakaiannya saja.” “Ya, selama ini saya selalu membayangkan muslimah itu sebagai si lembut dan baik hati,” ujar Ridwan, ketua FSLDK- nya Bung Hatta, “Tapi untuk Miss Marsha agaknya pengecualian.”  Ya , pengecualian. Siapa yang menyangka  jilbaber yang selalu modis dan doyan menggunakan warna-warna lembut itu suka membawa-bawa  pistol mainan berisi peluru noda buat di tembakan ke mahasiswa-mahasiswanya? Siapa pula yang menyangka jilbaber yang suka berbahasa Inggris raya itu suka berlagak dengan menampilkan atraksi koboi di depan mahasiswa-mahasiswanya? Tak ada yang menyangka kalau wanita yang bernama Marsha Sayidina itu tipe orang yang tak suka basa-basi dan keras dalam menetapkan peraturan bagi para mahasiswanya.

Oke class kalian telah menyelesaikan kuis kita dengan cara yang baik sekali ” Miss Marsha berjalan sampai ke belakang , sudah selama setengah jam ini mereka berkutat dengan dua soal yang di berikan Miss Marsha, dan sekarang semua kertas-kertas jawaban soal telah dikumpulkan ke depan, “Tak ada suara, tak contek-contekan,” ujarnya sambil mengelus-elus pistol  kesayangannya. Beberapa orang memperbaiki pakaian mereka. Keder juga dengan tindakan Miss Marsha. Biar Miss Marsha bicaranya manis,tapi dari caranya mengusap-usap pistol sepertinya akan ada yang kena tembak nih.

“Tak ada prinsip alam terkembang lagi tampaknya. Alam terkembang jadi dosen, contekan terkembang jadi sarjana. ” Beberapa orang lirik-lirikan . “Tapi kok ngusap-ngusap pistol?”Aldi memberanikan bertanya. “Kotor,” jawab Miss Marsha sambil berjalan kembali ke depan. Diletakkannya pistolnya di atas meja. “Saya sudah membaca tulisan yang kalian buat,” ujar Miss Marsha , diambilnya tumpukan kertas lain. Kertas itu berisi tulisan para mahasiswanya sebagai password agar bisa belajar dengan Miss Marsha .”Karena kuis ini rasanya enak, maka sisa waktu kita akan kita pakai untuk membahas tulisan yang kalian buat.” “Horee!” seisi kelas riuh bersorak “Huh maunya,” ujar Miss Marsha.Para mahasiswa tertawa. Miss Marsha mulai memandangi kertas di tangannya. “Hari ini indah,” Miss Marsha membaca kertas yang paling atas, “Biar cuacanya mendung, tapi hari ini tetap indah. Horee, terima kasih Tuhan.” Beberapa orang tertawa. “Jadi sebenarnya keindahan atau ketidakindahan sesuatu berawal dari suasana hati.”Miss Marsha berkomentar ,”Percuma hari cerah tapi hatinya mendung, keindahan yang sebenarnya ada di dalam hati, ada di dalam hati sendiri.”

Ia membaca tulisan yang kedua. “Tadi diatas angkot aku nemuin pegalaman yang bikin hati sedih. Seorang bapak berteriak ke sopir supaya berhenti tapi mobil nggak berenti juga, mungkin sopirnya nggak dengar karena waktu itu jalanan ribut sekali. Ketika akhirnya angkot berhenti, tanpa nanya si bapak memukul belakang kepala sopir yang masih remaja itu. Si sopir hanya terdiam tapi aku melihat matanya berkaca-kaca. ”Miss Marsha menarik napas, “Begitulah ,” ujarnya pelan ,“Rasulullah sendiri pernah mengatakan, bahwa orang yang paling kuat bukanlah orang yang besar tenaganya tapi adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Di sini Rasulullah berpesan, bahwa kesabaran adalah sebuah kekuatan yang tiada bandingnya. Allah lebih mencintai mukmin yang kuat dari mukmin yang lemah, apakah kekuatan hanya terpusat pada tenaga aja? ”Miss Masha menggeleng “Kekuatan juga ada pada komitmen, konsisten, kemampuan menahan amarah, kedisiplinan, dan harga diri.Semoga kita semua bisa mencamkan ini  baik-baik kedalam diri kita. ”Seisi kelas mengarahkan perhatiannya kepada Miss Marsha. Ia kemudian melanjutkan membaca tulisan yang ketiga.

“Saya menyukai Miss Marsha , seandainya saya bisa seperti dia.” Miss Marsha terdiam tiba-tiba. Lama ia  begitu .”Miss,” seorang dari sudut belakang berseru, “Are you okey?”  Miss Masha memandang yang berseru lalu meletakkan kertas-kertas itu ke atas meja. “Seperti apa kalian memandang diri saya?” tanyanya sambil mengambil kembali pistol pistol nya dari atas meja. Suatu petanda buruk, itu berarti seisi kelas harus aktif menjawab pertanyaan itu. “Margaret Thatcher,” Aldi berujar “Dosen langka,” ujar Rika “Kenapa aneh?” tanya Miss Marsha.”Karena jilbaber kok suka main-main pistol dan ngancem orang-orang.”

Miss Marsha tertawa, suasana berangsur santai. “jadi jilbaber harusnya baimana?” tanya Miss Marsha “Lembut, halus tutur katanya , nggak suka teriak-teriak. Apa itu ukuran untuk menjadi jilbber?” tanya Miss Marsha. “Setidak-tidaknya  kita mengenal jilbaber seperti itu,” ujar Setya ”Setidak-tidaknya ada harapan dari masyarakat, bahwa jilbaber harus yang demikian. Adalah aneh melihat anda pertama kali di kelas ini mempermainkan aksi koboi, namun kaarena selalu di pertunjukan, akhirnya jadi biasa.”Miss Marsha tertawa. “Tahukah anda ,sandar-standar seperti  itu terkadang menimbulkan beban bagi seorang jilbaber atau akhwat? ”Maksudnya?” “Biarkan mereka menjadi seperti apa mereka. Bingung gak?” “Iya!” Para mahasiswa serempak ber-koor ria. “Begini,” ujar Miss Marsha,”Saya di besarkan di lingkungan dimana laki-lakinya lebih banyak dari yang perempuan. Dari enam bersaudara hanya saya saja yang perempuan. Ibu saya meninggal ketika saya belum masuk SD, otomatis saya diasuh oleh ayah dan kakak-kakak lelaki saya. Bisa anda-anda bayangkan seperti apa saya?  Ya,begitulah, saya manjat pohon, ngejar layangan, main pistol-pistolan, mandi di kali, main hujan, main sepak bola.Aneh? ya, Perempuan dipandang aneh berperilaku demikian karena ia identik dengan kelembutan dan kasih sayang. Tahukah anda standar penilaian masyarakat ini terkadang menimbulkan tekanan tersendiri bagi saya ketika saya sudah berjilbab?”

Nah sudah mulai keliatan kan akhwat itu harus gimana....^^ kita lanjutin di edisi berikutnya yach
Thanks to RAB n' AHAB yg sudah bantu mengetikkannya kembali. Moga' Allah swt membalas dengan limpahan pahala untukmu ya sholih ^^

3 comments:

  1. hahaha ko sama yaaa sama aku....
    6 saudaraku semuanya laki2 loh....

    BalasHapus

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template