Sabtu, 27 Agustus 2011

Sebuah lagu yang dilantunkan oleh Afgan, betul betul  menyentuh kalbu.  Penghayatannya atas sebuah lagu, dan suaranya yang mempunyai timbre yang berbeda dengan penyanyi kebanyakan di negeri ini membuat lagu itu semakin berisi.  Dalam Mihrab Cinta, terdengar di telingaku dari Handphone yang  terhubung melalui sebuah Headset.
Lagu ini merupakan OST dari sebuah Filem dengan Judul yang sama dan diangkat dari Novel yang sama pula karya Penulis Novel  Islami  yang sohor dalam satu dekade ini, yaitu Habiburrahman El Shirazi, atau yang akrab disapa Kang Abik. Kang Abik memang jagonya sebagai penulis Novel  Islami dan mendapat respon yang luar biasa dari khalayak.  Judul-judul  novelnya kebanyakan mempertautkan antara Terminologi  keislaman dengan kata Cinta. Sebut saja Novel  Ayat-ayat Cinta, yang mana  OST beserta Filem layar lebarnya sangat fenomenal dan  meledak di pasaran. Selanjutnya Novel  Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta,  dan Takbir Cinta Zahrana. Terminologi keislaman pada judul-judul itu seakan-akan untuk memperkukuh bahwa ini adalah Novel Islami, dan bukan Novel Cinta picisan.

Ketika teman-temanku menyanyikan lagu Dalam Mihrab Cinta, aku sempat bertanya pada mereka apakah tahu artinya Mihrab?  Sebagian mengetahuinya , tapi banyak juga yang tidak. Mihrab atau Maharib (dalam bentuk Jamak) adalah   sebuah cekungan kecil yang berada pada bagian depan bangunan Masjid, Mushola, atau Surau.  Cekungan kecil ini menjadi pemandu  arah kiblat sekaligus tempat Imam memimpin Sholat berjama’ah, juga sekaligus tempat meletakan Mimbar.  Jika dilihat dari luar, maka Mihrab akan terlihat seperti bagian yang menjorok keluar dari bagian utama bangunan.
Alih-alih menghayutkanku pada erotika cinta, lagu  Dalam Mihrab Cinta-nya Afgan  justru membawaku melayang pada  sosok seorang guru mengaji di pinggiran sebuah Kota di Kalimantan, dan tentu saja  beserta sebagian kenangan masa kanak-kanak di sana.
***
Sebuah Langgar di seberang jalan Kompleks perumahan tempat tinggalku,  Jalan itu adalah jalan Trans Kalimantan, dengan kanal di sebelah kanan, dan kirinya.   Artinya antara Langgar  dan rumahku dihubungkan oleh dua buah jembatan. Langgar itu berupa bangunan  berdimensi  5m x 5m, dengan konstruksi pondasi berupa panggung, seperti halnya bangunan-bangunan lain di daerah rawa pasang surut ini. Tiang-tiang panggung dan lantainya adalah kayu Ulin atau kayu Borneo (Afzelia bijuga), dari celah lantai, aku dan teman-teman bisa megintip ikan-ikan yang berenang pada bagian kolong masjid, karena bagian kolongnya adalah air. Adapun atap Langgar  berupa sirap yang berbahan kayu Borneo juga, sedangkan dindingnya adalah papan dari kayu Ramin  (Gonystylus bancanus) dengan 4 buah jendela jalusi  yang besar-besar.
Selain sering diajak Sholat berjamaah oleh bapak, aku juga belajar mengaji di Langgar itu setiap sore, 3 kali sepekan.  Aktivitas itu dimulai saat aku sudah duduk dibangku kelas III SD. Guru mengajiku bernama Pak Usup, nama sebenarnya sih Yusuf Asnawi.  Seorang ustadz kampung, yang juga sekaligus sebagai kaum, penampilannya bersahaja,  berpeci hitam, memakai sarung, berkaos oblong putih  cap Cabe dan ditimpah baju kampret, seperti yang biasa dikenakan para petani.  Jaman itu memang belum ada trend busana muslim seperti Kopiah beraneka corak, Baju Koko beraneka model, ataupun Gamis yang sering kita liat dikenakan oleh para da’i ataupun ustadz beken di layar Televisi sekarang ini, yang kemudian busana-busana itu menjadi trendsetter, dan menjadi mode-mode yang dicari di pusat perbelanjaan.
Pak Usup dengan tekun mengajari kami mulai dari Alip-alipan . Pada masa itu belum ada sistem Iqro sebagai metoda belajar membaca huruf Arab seperti jaman sekarang. Selain mengajar mengaji , dia juga memberi kami pengetahuan agama lainnya, walau dia tidak menerima bayaran sama sekali.
Oh iya, aku rupanya belum tuntas menceritakan tentang keadaan Langgar itu. Langgar itu mempunyai Mihrab yang pada bagian kirinya ada sebuah pintu yang tak pernah terkunci, jika kita keluar melewati pintu itu, maka kita akan menemui titian kayu yang menghubungkan kita ke sebuah batang, dan juga bagian pintu masuk  Langgar.
Saat itu aku sudah menginjak kelas VI SD. Suatu sore saat usai mengaji aku beranikan diri untuk  bertanya  pada pak Usup tentang fungsi pintu keluar itu.
Itu lawang gasan Imam kaluar amun inya batal, Nda ay” Jawabnya.
(itu pintu untuk Imam keluar kalau dia batal)
Jadi menurut pak Usup, jika seorang Imam ketika sedang memimpin sholat berjamaah batal wudhunya, atau mungkin dia kepingin buang hajat, maka dia dapat keluar lewat pintu itu dan posisinya akan digantikan oleh salah seorang ma’mum di belakangnya. Imam yang batal itu kemudian melewati titian untuk menuju  batang, (lalu buang hajat jika memang kebelet), berwudhu, dan kembali bergabung dalam sholat berjamaah tapi posisinya sebagai ma’mum dan bukan sebagai Imam lagi.

Seingatku, sepanjang  melakukan perjalanan di berbagai Kota-kota di pulau Jawa, Baik kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, juga kota-kota kecil seperti Sumedang, Sukabumi, Purwerejo, Banyuwangi, dan juga selama berdomisili di Bandung, jarang sekali aku  menemukan Mihrab dengan pintu keluar seperti itu . Memang kadang ada pintu di sebelah kiri atau kanan Mihrab, tapi itu menuju ruangan sound system, atau  juga gudang tempat menyimpan gulungan karpet dan sajadah.
Rupanya tidak itu saja penjelasan pak Usup,
Imam tu pamimpin kalo, ma’mum tu rakyatnya jar”.
(Imam itu sebagai pemimpin kan, dan ma’mum itu adalah rakyatnya)
Iya betul, analoginya adalah Jika sholat berjamaah adalah suatu periode kepemimpinan, maka imam sebagai pemimpin,  dan ma’mum adalah rakyatnya. Jika seorang pemimpin itu, baik dalam lingkup yang kecil, misalnya sebuah organisasi masyarakat, lembaga, maupun lingkup yang besar seperti pemerintahan, batal dalam periode kepemimpinannya, maka dia dipersilahkan untuk keluar melalui pintu itu, kembali bersuci dengan berwudhu, dan bergabung kembali sebagai rakyat atau anggota biasa. Dia harus sukarela posisinya diganti, agar roda organisasi atau pemerintahan tetap berjalan.
Tidak terbayang jika Mihrab tanpa pintu keluar. Apakah sebelum memimpin sholat seorang  Imam yakin bahwa dia tidak akan batal? Lalu jika ternyata dia batal, apakah dia langsung saja menabrak barisan ma’mum dibelakangnya? Atau yang lebih parah jika Imam itu kentut, dan mihrab itu tak ada pintu keluar. Mungkin saja Imam itu akan berpura-pura tidak batal, sampai menyelesaikan roka’at Sholat. Sementara bau kentut itu sudah menyebar kemana-mana, dan ma’mum tak mungkin menutup hidungnya.
***
Suara khas Afgan begitu syahdu dan menyentuh….., Bagian akhir syair lagu Dalam Mihrab Cinta kembali menggiringku ke masa sekarang, meninggalkan indahnya masa kecil di Banjarmasin.

# Suatu hari kau kan mengerti
Siapa yang paling mencintai
Dalam Mihrab Cinta ku berdoa’a padaNya
Semoga, semoga.

Kampoeng  Srempet, Bogor Agustus 2011

Keterangan :
Batal:                    Batal disini bukan berarti cancel, atau tidak jadi, tapi tidak dalam keadaan sah untuk melanjutkan ibadah.
Batang:                Dermaga kecil di pinggir sungai atau kanal, tempat menambatkan perahu, sekaligus juga berfungsi sebagai tempat mandi, mencuci, dan berwudhu.
Kaum    :               Merbot. Penjaga dan pengurus kebersihan masjid/Mushola .
Langgar:              Masjid kecil, klasifikasinya sama dengan Surau, Tajug, atau Musholla.

web : www.filmdalammihrabcinta.com/

0 comments:

Poskan Komentar

 

Everything is Inspiring! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template